Praktik Kebun Campuran Mendukung Pelestarian Burung Kakaktua Maluku

Source: CIFOR Forests News

Peringatan hari satwa liar atau World Life Day tahun 2017 ini memilih untuk fokus pada generasi muda yang bertajuk “Dengarkan Generasi Muda.” Fokus pada generasi muda merupakan langkah yang tepat, karena mereka adalah generasi yang akan mewarisi alam, bentang alam, sumber daya, dan tata kelola.

Generasi muda sangat perlu memiliki informasi dan pengetahuan yang cukup untuk terus bisa menyuarakan dan menemukan jalan, agar manusia dan satwa liar dapat hidup berdampingan.

MAKIN LANGKA, MAKIN TERANCAM

Indonesia memiliki hutan tropis terluas ketiga di dunia dan termasuk dalam kelompok negara dengan keanekaragaman hayati terkaya di dunia. Potensi ekowisata dengan mempromosikan satwa langka, selain mendatangkan pendapatan bagi pengelola daerah konservasi dan masyarakat setempat, serta dapat meningkatkan kesadaran betapa pentingnya hutan dan upaya untuk melindunginya.

Selain itu, Indonesia juga menjadi tempat hidup spesies yang terancam punah di dunia, seperti orang utan, gajah sumatra, harimau, badak dan bahkan burung kakaktua. Indonesia juga pernah mendorong secara total kegiatan pertanian tradisional di dalam sebuah taman nasional yang merupakan benteng untuk spesies langka, salah satunya adalah kakaktua Maluku. Tetapi, hal itu malah memberi dampak negatif pada spesies yang dilindungi oleh taman tersebut.

Sebuah penelitian CIFOR menjelaskan bahwa “Pada situasi tertentu, tampaknya burung kakaktua Maluku bergantung pada hutan yang telah dimodifikasi manusia, seperti hutan kebun campuran dan hutan damar yang terdapat di dalam Taman Nasional Manusela. Namun, jika larangan penuh terhadap praktik pertanian tradisional diberlakukan dapat merugikan populasi burung kakaktua tersebut,” jelas Masatoshi Sasaoka, seorang peneliti pasca-doktoral CIFOR.

Kakaktua berjambul salem (Cacatua Moluccensis) ini merupakan ciri khas di Kepulauan Maluku Tengah, bagian Timur Indonesia. Populasi liar berjumlah 60.000 ekor burung ini masih dapat ditemukan di Pulau Seram. Burung kakaktua berjambul mengembang yang menjadi logo Taman Manusela ini telah menarik perhatian pengamat burung dari seluruh dunia.

Meskipun berbagai kegiatan pertanian yang berlangsung dalam Taman Nasional selama ini dianggap sebagai ancaman terhadap keanekaragaman hayati dan telah dilarang oleh otoritas pengelola Taman Nasional Indonesia, karena sekitar 1.500 penduduk desa yang tinggal di daerah pegunungan di dekat Taman nasional telah lama merawat kebun hutan.

Salah satunya ialah burung kakaktua Maluku terdaftar dalam kategori hewan yang paling terancam punah di dunia oleh Convention International Trade in Endangered Species (CITES), tampaknya sering menggunakan gugusan hutan yang dimodifikasi oleh manusia ini.

Pada saat World Conservation Congress diselenggarakan di Korea Selatan, Masatoshi Sasaoka mengungkapkan “Jika hutan-hutan yang dimodifikasi manusia merupakan habitat penting bagi burung kakaktua Maluku, ada kemungkinan bahwa langkah pengelola melarang secara ketat adanya campur tangan manusia mengenai pertanian di dalam Taman adalah cara yang tidak tepat untuk mendorong konservasi tanpa mengganggu penghidupan penduduk setempat yang tinggal di wilayah hutan terpencil.”

Belum diketahui sampai tingkat apa burung kakaktua ini bergantung pada hutan modifikasi manusia yang terbentuk melalui praktik arborikultur ini. Namun, Sasaoka dan rekan-rekannya melakukan survei transect burung kakaktua bersama penduduk setempat selama musim durian dan nangka.

Masih perlu dilakukan survei serupa selama musim tidak berbuah untuk menghindari bias musim. Berlandaskan data yang dikumpulkan survei nanti, para peneliti ingin membandingkan jumlah relatif burung kakaktua antara hutan yang telah dimodifikasi oleh manusia dengan hutan alam primer.

News Reporter