5 Alasan Porsi Whiskas Makanan Kucing Harus Dikurangi saat Kemarau

Apakah kamu rajin menggunakan Wishkas makanan kucing untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya? Kalau iya, mulai sekarang coba sesuaikan porsinya berdasarkan musim di Indonesia. Saat musim kemarau kucing cenderung tidak suka makan banyak. Jadi sesuaikan. Kira-kira apa saja alasan yang menyebabkan nafsu makan kucing berkurang secara massal?

1. Suhunya di Atas Rata-Rata

Mungkin Anda penasaran, berapa sih suhu rata-rata di Indonesia? Berdasarkan catatan BMKG, Indonesia mencapai suhu yang stabil pada kisaran 33 derajat celsius. Sementara suhu normal dalam tubuh manusia kisaran 36 hingga 37 derajat celsius. Lalu berapa suhu normal kucing pada hari-hari biasa? Tentunya lebih tinggi daripada manusia.

Baik manusia maupun kucing sama-sama memiliki sensitivitas terhadap perubahan suhu sekecil apa pun. Untuk mengujinya, coba Anda berdiri di hadapan AC. Setel suhu pada nilai 31 derajat celsius. Kemudian turunkan atau naikkan sebanyak 4 nilai. Pasti akan terasa bedanya. Kucing juga bisa merasakannya. Ketika kemarau, suhunya berubah jadi 34-35o C.

2. Bulu Kucing Tidak Bisa Menikmati Perubahan Suhu

Manusia yang tidak punya bulu saja merasa kepanasan dengan suhu di atas 32 derajat celsius. Bagaimana dengan kucing yang memiliki bulu? Pasti kepanasan. Itulah yang menyebabkan selera kucing jadi turun. Kucing akan lebih suka bermalas-malasan ketimbang memakan sesuatu.

Apalagi kucing dengan ras tertentu, seperti Anggora atau Persia. Tentunya porsi yang disediakan harus dikurangi melebihi porsi kucing kampung. Selama makannya sedikit, bagaimana caranya menstabilkan nutrisi untuk si kucing? Akali saja dengan minuman berprotein tinggi. Misalnya susu dingin agar dia tidak kekurangan nutrisi tubuh.

3. Merasa Tidak Nyaman Makan di Siang Hari

Rasa tidak nyaman juga kerap membayangi kucing ketika musim kemarau tiba. Bahkan ada kucing yang sama sekali tidak makan di siang hari. Nah, agar seimbang, berikan saja dia makan ketika malam hari. Biasanya nafsu makannya akan terpancing ketika suhu udara turun jelang atau ketika malam tiba.

Namun musim kemarau termasuk kategori dalam cuaca yang cukup ekstrem. Ketika siang terasa panas. Namun ketika malam terasa dingin. Dalam keadaan tertentu rasa dingin itu betul-betul menusuk tulang. Barangkali dingin itu akan berpengaruh pada manusia, namun tidak sepenuhnya pada kucing. Jadi, berilah dia makan secukupnya ketika malam hari saja.

4. Terlalu Banyak Keluar Keringat

Berbeda dengan manusia. Ketika kucing berkeringat, jilat-jilat saja tidak cukup. Minum minuman yang dingin juga tidak cukup. Mau tidak mau harus dimandikan. Itu pun kalau tuannya perhatian. Kalau tidak, paling-paling dia mogok makan. Pada saat-saat mogok makan, jangan menuduh yang bukan-bukan.

Itu tandanya dia sedang tidak nyaman dengan dirinya sendiri. Meskipun Anda sodorkan makanan sebanyak mungkin, responsnya tetap sama. Biar semangat makannya balik lagi, mandikan saja kucing Anda. Namun jangan sampai menyinggung perasaannya. Mandikan dengan teknik yang benar biar sang kucing tidak terlalu melakukan perlawanan.

5. Tingkat Keasaman pada Lambung Turun

Pada musim kemarau, tingkat keasaman lambung pada kucing cenderung turun. Apa hubungannya asam pada lambung dengan selera makan? Berdasarkan ilmu dari para ahli kucing, semakin tinggi tingkat keasaman lambung, makannya semakin lahap. Begitu juga sebaliknya. Rumus ini juga berlaku untuk manusia pada umumnya.

Makanan kucing lezat apa pun tidak akan berguna kalau nafsu makan kucing turun drastis saat kemarau. Kalau Anda tidak suka memandikan kucing, untuk menjaga selera makannya cukup bulunya dilap tipis dengan kain basah. Sekali lagi, manfaatkan waktu malam untuk membuat kucing berselera makan kembali.

News Reporter